Anita is My True Love


20 June, 2006

Kenapa Harus Menikah?

Filed under: Uncategorized

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi
kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

  1. Melengkapi agamanya
    “Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya.
    Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya
    lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

  2. Menjaga kehormatan diri
    “Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk
    nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan
    dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak
    mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi
    dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu
    Jarud dan Baihaqi).

  3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
    “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan
    perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara),
    yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah,
    dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah
    Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai
Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat
sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa;
bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau
bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang
bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah;
(pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan
tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah);
memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar
adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.” Mereka
bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami
melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab,
“Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada
tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab
perbuatannya itu?” (Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda,)
“Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal,
dia pun akan mendapatkan pahala.” (Beliau kemudian menyebutkan beberapa
hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah,
lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua
raka’at Dhuha.”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

  1. Adanya saling nasehat-menasehati

  2. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

  3. Pahala memberi contoh yang baik
    “Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam,
    maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala
    orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun.
    Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam,
    maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang
    meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR. Muslim, Buku
    Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau
    kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi
contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan
anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga
memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

  1. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada
    istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan
    akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Satu
    dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan
    untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang
    miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang
    paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada
    keluargamu.” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah
    terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang
dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk
kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu
teman seperjuangan di jalan Allah.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin
Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya
daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah
nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan
menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Wahai
Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?” Beliau
menjawab dengan bersabda, “Berilah makan bila kamu makan dan berilah
pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya,
janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di
dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara
sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu
telah dihalalkan terhadap mereka.” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami
tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
“Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari
keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang
kamu sediakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush
Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang
harus diberi belanja.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin
Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah


“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.”
(Saba’: 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Setiap pagi ada
dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: “Ya Allah,
berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain
berdoa: “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR. Bukhari
dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

  1. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut
    memelihara anak yatim

Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.

1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka
dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu
seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya
merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.
(HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan
Hakim 2: 160)

Sumber
http://perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=109

11 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://arnita.blogsome.com/2006/06/20/kenapa-harus-menikah/trackback/

  1. Sungguh Dakwah yang menarik. Di sadur darimana? Kalau disadur kasihkan Sumbernya den Bagus Aryo. Kalau ada Linknya lebih baik

    ;)

    Comment by Jauhari — 20 June, 2006 @ 6:06 am

  2. oke deh terima kasih atas sarannya kang mas
    Semoga bermanfaat

    Comment by Administrator — 20 June, 2006 @ 6:07 am

  3. Yaa akan sangat bermanfaat. Udah saya kasihkan info ke teman

    Comment by Jauhari — 20 June, 2006 @ 6:11 am

  4. Oke terima terima kasih mas
    Semoga saya bisa cepat bisa menyusul seperti mas uddyn membangun rumah tangga yang sakinah dan mawadah warahmah

    Comment by Administrator — 20 June, 2006 @ 6:14 am

  5. wah mantep artikelnya bagi bujangan kaya kite kite… biar dosa dosa kite yang lalu cepet terampuni.

    jadi pingin cepet nikah nih… en bangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah.

    Comment by johan — 21 June, 2006 @ 12:59 am

  6. wah…. artikelnya mantep cuma kapan nikahnya…

    Comment by ario dipoyono — 21 June, 2006 @ 3:12 am

  7. Insya Allah
    Segera mungkin kita menempuh hidup baru johan dan ario

    Comment by Administrator — 21 June, 2006 @ 3:21 am

  8. waaa…. yang mo nikah…

    Comment by isdah — 21 June, 2006 @ 5:59 pm

  9. Assalamu’alaikum
    Kalau saya lihat di situs www.perpustakaan-islam.com artikel tersebut ditulis sama yang namanya Chandraleka. Jadi baiknya nama yang nulis dicantumkan juga. Oya, doain juga deh, biar saya juga bisa cepet nikah dan dapat akhwat yang shalihah dan cantik …. Amin

    Comment by Abdullah — 1 November, 2006 @ 12:39 am

  10. Insya Alloh, saya akan menikah Ahad, 26/11/06 di BANDUNG.

    Saya sering mendengar do’a Semoga menjadi keluarga SAKINAH, MAWADAH, WARAHMAH.
    Mohon bantuan ihwan / ahwat apa sih arti yang sebenarnya dari kata2 dimaksud?
    Wassalam,

    Comment by Karman Sudirman — 18 November, 2006 @ 2:15 am

  11. ya doain ja aku agar cepat menikah ma Nunik secepatnya agar hubungan kita gak tambah dosa.

    Comment by wylson Arif agis tara — 24 May, 2007 @ 3:27 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer