SURAT PENGANTAR KIRIMAN ARTIKEL:
Yth Ustad Jalaluddin Rakhmat,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sehubungan dengan Peringatan 1 Muharram sebagai awal tahun baru Hijriah dan dalam sejarah yang kami kenal adalah sekaligus sebagai hari hijrahnya Rasulullah saww dari Mekkah Al Mukarromah ke Madinah Al Munawarah. Namun dari penjelasan ustad yang saya kutip dari web site harian Pikiran Rakyat Bandung 3 tahun lalu, serta saya dengar sendiri penjelasan ustad kira-kira 4 tahun lalu melalui radio Ramaco FM, berbeda dengan apa yang selama ini kami terima dari institusi-institusi resmi pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Saya sangat mengerti hal ini sama sekali tidak merupakan masalah urgen yang harus dipertentangkan, namun sangat saya harapkan beroleh penjelasan lebih rinci dari ustad dan pengetahuan tentang pendapat lain dari para ahli sejarah atau ulama jika kami beroleh referensi-referensi yang dapat kami gali. Berikut dibawah ini saya kutipkan tulisan pada harian tersebut.
Jazakumullah khairan katsira,
9 Muharram 1428 H
Mochammad Baagil
K.H. Dr. Jalaluddin Rahmat dalam Diskusi Buku,
”Keliru, 1 Muharam Awal Hijrah Rasul”
BANDUNG, (PR).- 11 Maret 2004
Sejarah Islam seperti hijrah Nabi Muhammad harus segera diluruskan. Terjadi salah kaprah dan anggapan salah mengenai sejarah hijrah ini. Kalau Anda mengira peringatan 1 Muharam sebagai awal Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, maka keyakinan itu salah besar.
“Nabi Muhammad yang ditemani sahabat Abu Bakar hijrah ke Madinah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam sebagai tanda dimulainya tahun hijriah,” kata Ketua Yayasan Muthahhari, K.H. Dr. Jalaluddin Rahmat dalam diskusi buku “Psikologi Agama” di Masjid Darul Ihsan PT Telkom Jalan Japati, beberapa waktu lalu.
Menurut Kang Jalal, apabila umat Islam meluangkan waktu dua menit saja untuk membaca buku, maka Nabi Muhammad melakukan hijrah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam. “Jadi, keliru besar peringatan 1 Muharam sebagai awal hijrahnya Nabi Muhammad,” tegas pakar Islam ini.
Kang Jalal mengatakan, peringatan tahun baru Islam tiap 1 Muharam juga baru dimulai sejak 25 tahun lalu atau sekira tahun 1970-an yang berasal dari ide pertemuan cendekiawan Islam di AS. “Waktu itu terjadi fenomena maraknya dakwah, masjid-masjid dipenuhi jemaah, dan munculnya jilbab hingga kemudian dikatakan sebagai kebangkitan Islam, Islamic Revival. Hal ini diperkuat dengan liputan majalah Times yang dalam sampul depannya memuat tulisan Islamic Revival,” katanya.
Untuk lebih menggelorakan kebangkitan Islam, lanjut Kang Jalal, akhirnya disepakati perlunya peringatan tahun baru Islam hingga menyebar ke seluruh Muslimin termasuk di . “Tidak ada landasan hukum baik Alquran maupun hadis soal peringatan tahun baru Islam. Saya menganggap bid’ah, tapi tak berani menyebut bid’ah dhalalah,” katanya.
Sedangkan peringatan Sura seperti di Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta merujuk kepada kata Asysyura atau 10 Muharam yang memiliki landasan hadisnya. “Anehnya di Indonesia peringatan 10 Muharam tidak banyak dilakukan malah ada sebagian umat Islam yang ingin mengecilkan malah meniadakannya. Di lain pihak, ada sebagian kecil umat Islam yang berusaha mengadakan peringatan Asysyura meski gaungnya belum besar,” timpalnya.
Bagi Ketua Umum Ikatan Jamaah Ahlul Bait (Ijabi) itu, peringatan 1 Muharam yang diidentikkan dengan kebangkitan Islam malah jauh dari tujuan yang diharapkan. “Saya terjebak kemacetan panjang di jalur selatan yang ternyata setelah diselidiki penyebabnya pawai 1 Muharam. Tampak anak-anak kecil diangkut truk bak terbuka hingga saya heran apakah ini yang disebut kebangkitan Islam?” ujarnya.
Kang Jalal juga mengkritik istilah kebangkitan Islam yang selama 25 tahun ini belum juga terwujud malah umat Islam di dunia termasuk makin terpuruk. “Boro-boro bangkit malah makin terpuruk dan tersingkirkan. Umat Islam malah dituding sebagai teroris hingga citranya negatif. Apakah ini yang disebut kebangkitan Islam?” tanyanya lagi.
Kang Jalal meyakini ajaran Islam merupakan rahmat bagi alam semesta, namun tak sedikit pula yang berbuat kezaliman dengan mengatasnamakan “bendera” agama. “Kadang saya dibuat heran. Di satu sisi Islam mengajarkan kasih sayang, namun tak sedikit pula Muslimin yang memfitnah, mengadudomba, bahkan membunuh saudaranya dengan mengatasnamakan agama,” katanya.
Ajaran Islam juga mendorong seorang Muslim untuk berbuat baik, membangun pesantren, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lain-lain yang didasarkan atas perintah agama. “Namun, tak sedikit pula yang membawa label agama lantas menyakiti, menyebarkan kebencian, dan lain-lain. Agama adalah kenyataan terdekat kita sekaligus terjauh,” katanya.(A-71)*






thank’s for information….
Comment by ali — 11 January, 2008 @ 7:28 pm